DARURAT RAMAH ANAK – Rekomendasi Revolusi Mental untuk Pemerhati dan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini

Jakarta, 24 Mei 2016

Berikut adalah makalah pendek hasil pemikiran saya, yang pertama kali penulis sampaikan ketika diminta untuk mengemukakan rekomendasi kepada pra-kabinet kerja sekitar 2 tahun yang lalu.

Prihatin dengan kemerosotan moral  di kalangan belia belakangan ini, beberapa rekan yang bergerak di bidang pendidikan, pembangunan karakter, kesehatan dan kemanusiaan lalu mendorong penulis untuk mempublikasikan makalah ini untuk khalayak luas.  Keprihatinan saya pribadi juga meningkat, berangkat dari pengamatan bahwa telah terus berulang siklus ketidak-tahuan dan ke-tidak peduli-an (“cycle of ignorance”), dipupuk oleh berbagai kebiasaan dan kepercayaan negatif yang menghambat pertumbuhan dan pencerahan anak.  Siklus ini terus berlanjut, diwariskan kepada anak-anak oleh para kakek, nenek, orang tua serta pendidik yang terkungkung berbagai kebiasaan buruk yang telah mendarah daging, yang diturunkan kepada mereka dari generasi pendahulunya.  Sudah sesuatu yang darurat untuk menciptakan keluarga dan lingkungan yang ramah anak, to “Let Kids be Kids.”

Harapan kami adalah, semoga ide-ide ini diteruskan dan sampai kepada berbagai pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan, kesehatan dan perlindungan anak, sehingga bisa ditelaah lebih lanjut.

Semoga berkenan dan bermanfaat.

Lily Dawis, pemerhati sosio-budaya dan pendidikan anak usia dini, penulis cerita dan pencipta lagu anak-anak.

============================================================================================

“I Hear, I know
I See, I remember
I Do, I understand” Confucius

PENDAHULUAN

Revolusi mental perlu dimulai sedini mungkin.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Bangsa yang hebat selalu menaruh perhatian luar biasa bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karena merupakan kesempatan utama untuk membangun akar:
*pendidikan moral,
*etika,
*perkembangan fisik,
*kecerdasan/kognitif,
*ketangkasan sosio emosional
anak, yang lalu menjadi bekal utama baginya dalam menavigasi jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya dan tantangan kehidupan pada umumnya.

Dalam penjelasan Pasal 28 UU Sisdiknas No. 20/2003, rentangan anak usia dini adalah 0-6 tahun, dengan demikian, masa pre-natal tidak tercakup, namun masa tersebut diyakini merupakan saat krusial untuk membangun kesiapan pelaksanaan PAUD, oleh karena itu kami sertakan dalam pembahasan dan rentang usia ini kami sebut sebagai Usia Sangat Dini.

Rekomendasi yang tercakup dalam makalah ini meliput masa-masa paling rentan dalam kaitan Pendidikan Anak Usia Sangat Dini, yaitu masa-masa:
1. pre-natal (masa kehamilan),
2. infant (0-1tahun) dan
3. toddler (2-3tahun).

*Periode untuk 0-3 tahun juga di kenal di bidang “early childhood/early education” dengan terminologi “the first thousand days.”

TUJUAN

Dengan melakukan revolusi mental, pemerhati dan penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini berhasil membangun fondasi terciptanya manusia Indonesia yang: cinta bangsa, mawas diri, sadar lingkungan, sehat jasmani & rohani, empatik, akuntabel, kredibel, kompeten, kreatif, berdaya saing tinggi dan merupakan warga dunia yang dihormati, diteladani dan disegani.

PEMBAHASAN

I. Siapakah penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini?

Jawaban umum dari sebagian besar masyarakat adalah pemilik dan guru taman bermain/taman kanak kanak beserta jajarannya yang dinaungi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan divisi PAUD. Padahal, sebenarnya, penyelenggara utama Pendidikan Anak Usia Dini pada hakekatnya adalah orangtua dan keluarga.

Di sinilah letak revolusi mental yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Ciri khas kepribadian insan Indonesia adalah gemar bergotong royong dan saling menolong. Namun, ciri khas ini tidak disadari sebagai kekuatan yang sungguh dahsyat. Di hampir semua program PAUD ternama dari banyak negara maju, mereka menyatakan “menemukan” bahwa kedekatan anak dan orangtuanya melalui “bonding” (menjalin ikatan), akan dengan efektif memicu kecerdasan dan ketangkasan anak. Padahal, program-program ini sebagian besar “baru ditemukan” di abad lalu. Sedangkan, masyarakat Indonesia telah menjalankan praktik “bonding” melalui “gotong royong” secara refleks selama berabad-abad lamanya.

Namun, tidak dipungkiri, dengan menumpuknya beban dan kewajiban para orangtua dan tuntutan era modern di mana kedua orangtua harus bekerja, banyak yang kurang menyadari/terpaksa menggerus posisi mereka sebagai pendidik utama bagi anak.
Mereka lalu menyerahkan posisi strategis ini kepada orang lain;
*untuk sebagian besar keluarga di pedesaan, kepada ibu/ibu mertua (yang acapkali masih buta aksara dan tumbuh dengan berbagai kebiasaan negatif yang terus menerus diturunkan kepada generasi berikutnya tanpa bertanya).
*untuk keluarga ekonomi menengah ke atas (upper-middle class) tanggung jawab tersebut diserahkan kepada babysitter-pengasuh anak/pembantu rumah tangga sekaligus berusaha mengkompensasi ke tidak hadiran mereka melalui kelas-kelas daycare maupun guru-guru les.

Padahal, sebenarnya dan sebaiknya:

“Tidak ada yang mengenal anak sebaik orangtuanya”

Karena guru pertama anak (default teacher) adalah orangtua-nya. Dan yang sering kurang disadari oleh banyak keluarga, jika dalam usia keemasan 0-3 tahun, orangtua yang memiliki posisi strategis dan sentral bagi anak, tidak menyadari tanggung jawabnya sebagai pendidik anak yang utama, anak tersebut berpotensi kehilangan kesempatan emas dan tumbuh limbung (socially awkward).

Revolusi mental yang diperlukan dalam Pendidikan Anak Usia Sangat Dini adalah perubahan paradigma dari school centric menjadi family centric.

Dengan demikian, yang sangat krusial untuk diajak ber-revolusi mental bukan hanya guru-guru melainkan para calon orangtua dan tentunya para orangtua.

II. Langkah-langkah Rekomendasi Sesuai Target Umur dengan Administrasi Ramping dan Efisien.

1. Pre-natal (Pra-kelahiran)

“Surga berada di telapak kaki Ibu”

Demikian pepatah lama yang sangat dalam maknanya. Kebenaran pepatah ini sangat paralel dengan tingkat kebijaksanaan sang Ibu dan peran serta Ayah:
*memutuskan apa yang dikonsumsi Ibu selama kehamilan (asupan jasmani maupun rohani)
Catatan khusus untuk asupan rohani: perlu diperhatikan paparan terhadap dentum/frekuensi musik yang polutif maupun konten yang rentan kekerasan karena berkorelasi terhadap pembentukan otak, emosi serta memori bawah sadar janin.
*menjaga kebersihan dan kesehatan fisik dan mental selama kehamilan.
*mempersiapkan diri dan pasangan serta keluarga untuk menyambut buah hati secara rohani, jasmani dan finansial.
*membuat rencana garis besar dasar pembagian tugas yang sederhana, konsisten, aman dan nyaman.

Untuk keluarga-keluarga yang berdomisili di area pedesaan/mayoritas buta aksara, idealnya dijangkau dalam upaya penyuluhan untuk topik-topik di atas dengan menggandeng program Keluarga Berencana (KB) yang dinaungi BKKBn atau program sejenis dalam ruang lingkup:
*“Ketahanan dan pemberdayaan keluarga”
*”Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas”

Personil yang telah ditugaskan untuk menyuluh lingkup KB di atas, diberdayakan untuk menguasai pendalaman kebijaksanaan pasangan baru. Dengan demikian tidak tercipta kebutuhan guru-guru baru maupun pemborosan anggaran untuk penguasaan maupun penyuluhan terkait topik ini.

Untuk keluarga-keluarga di daerah perkotaan, meningkatkan kesadaran melalui media, social media dan menggandeng berbagai Corporate Social Responsibility Programs untuk memfasilitasi berbagai “events” yang informatif-menarik-efektif.

2. Bayi/Infant (0-1 tahun)

Ibu yang resah akan menghantarkan keresahannya kepada sang anak, apalagi ketika memberinya ASI. Ibu membutuhkan suasana yang kondusif yang hanya dapat tercipta dengan kerjasama/gotong-royong dari pasangan dan keluarganya. Ibu yang sehat dan tenang lebih mungkin menciptakan suasana yang aman, damai, sehat, kondusif, inspiratif bagi bayi.

Simpang siur dan debat dalam menimang bayi (infant) sebaiknya diminimalisir dan diselesaikan sebelum sang bayi lahir. Berbagai keputusan penting seperti apakah akan berkomitmen untuk memberi ASI harus menjadi komitmen pasangan dan didukung oleh keluarga terdekat, beserta tata cara dan asupan Ibu secara jasmani dan rohani.

“Anak adalah peniru terbaik” “Anak adalah cerminan orangtua-nya”

Pengenalan terhadap berbagai hal di bawah ini sudah dapat dilaksanakan dengan pemberian narasi yang disertai aksi sederhana, konsisten dan berulang-ulang.  Ciptakan berbagai kesempatan bagi anak untuk andil dalam berbagai kegiatan Ibu dan Bapak (sebagai pemimpin, audiens maupun sebagai asisten) untuk memberinya kesempatan mempelajari:

*Aman/Tidak Aman
-Hormati sang anak, jika ia belum merasa nyaman dengan orang yang jarang ditemuinya, jangan memaksa.
-Tunjukkan orientasi atas, bawah, dan konsep gravitas dan bagaimana menavigasi perbedaan orientasi. Contohkan.
*Konsep “Tubuhku adalah milikku, menghargai diriku sendiri dan menjaga milikku sendiri.”
*Prinsip kausalitas (sebab akibat, contohnya: malam hari gelap, maka itu kita menyalakan lampu, menekan tombol, lampu menyala, lalu terang),
*Empati (berbagai level emosi: sedih, lelah, marah, senang, mengapa dan bagaimana mengubah yang kurang baik menjadi lebih baik),
*Kesadaran lingkungan (tidak buang sampah sembarangan, memperhatikan perubahan cuaca dan unsur-unsur alam),
*Dasar-dasar sopan santun (maaf, permisi, terimakasih) serta
*Kreatifitas (bergumam, yang sebenarnya dasar bernyanyi, eksplorasi berbagai tekstur barang, kain, makanan, minuman)

Puskesmas dan perangkatnya seyogyanya dapat diberdayakan untuk menjadi pusat informasi cara menjaga kesehatan bayi serta berkomunikasi dan menjalin ikatan erat dengan sang bayi.
*Tahapan serta milestones yang dilalui anak sebaiknya disertai pemahaman yang cukup baik dari orangtua untuk pedoman observasi dan pemberian rangsangan yang sesuai tahapan anak.
*Asupan makanan sehat dan asupan rohani berupa musik, cerita, gerak maupun sentuhan, sangat tinggi nilainya dalam meningkatkan kecerdasan dan ketangkasan bayi.

Program CSR dari berbagai perusahaan dapat dihimbau dengan pemberian ekstra insentif berupa penghargaan yang difitur dalam belanja media berbagai departemen pemerintahan yang berkaitan dengan kesejahteraan anak agar menghantarkan informasi, teknik dan material yang paling mutakhir, efisien dan efektif bagi keluarga muda.

3. Toddler (2-3tahun)

Inilah saat yang ideal untuk lebih mendalami prinsip kausalitas, empati, kesadaran lingkungan, dasar-dasar sopan santun serta kreatifitas. Seorang anak tidak akan serta merta memahami maupun menguasai dasar-dasar pendidikan moral, etika, fisik yang tentunya sangat penting untuk membangun kecerdasan/ketangkasan kognitif dan sosio-emosional.

Jika program yang “family centric” dari tahapan-tahapan sebelumnya sudah berjalan dengan baik, dalam tahapan ini, seharusnya anak sudah lebih percaya diri serta mandiri dan bersemangat untuk mengeksplorasi lingkungannya.

Secara fisik, sebagian besar anak sudah berorientasi vertikal (tidak lagi merangkak melainkan berjalan tegak) seyogyanya miniatur orang dewasa. Ia seringkali terkesan mendorong batas emosi orangtuanya, padahal jika kita berempati, si kecil semata-mata ingin memahami norma-norma sosial, apa yang “boleh” apa yang “tidak,” karena seringkali orang-orang dewasa di sekitarnya ambigu. Konsistensi terhadap apa yang “boleh”/”tidak boleh” akan mengurangi rasa frustasinya.

Pada tahapan ini, sebagian orangtua mulai memasukkan buah hati mereka ke kelompok bermain (playgroup). Penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa guru-guru dan fasilitas di kelompok bermain bukanlah pengganti orangtua, melainkan perpanjangan dari orangtua.

Kesalahan yang cukup fatal dapat terjadi ketika orangtua menyerahkan semua hal berkaitan pendidikan anaknya kepada sekolah. Kecerdasan emosional yang ternyata berperan lebih besar dalam suksesnya seorang individu di masa depan, tidak dapat dibangun hanya di sekolah, melainkan lebih krusial bagi anak untuk memperoleh banyak kebebasan mengobservasi dan menjadi bagian dari dinamika dan pasang surut keluarganya sendiri.

Berbagai lembaga PAUD yang menyelenggarakan fasilitas playgroup perlu dihimbau agar mengikutsertakan orangtua secara aktif dalam berbagai aktifitas dan perkembangan anak.

PENUTUP

Rekomendasi ini bermaksud menekankan pentingnya peran orangtua agar supaya tidak lepas tangan dan senantiasa berusaha menjalin ikatan batin (“bonding”) bersama buah hatinya, bersama lembaga penyelenggara PAUD bergandengan tangan sebagai “partner” dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Rekomendasi ini tidak pernah memungkiri berbagai kelebihan yang dapat ditawarkan berbagai lembaga penyelenggara PAUD dan tidak juga membahas berbagai kekurangan yang terjadi di lapangan, semata-mata merekomendasikan apa yang sekiranya secara umum dapat meningkatkan kualitas mental pemerhati dan penyelenggara PAUD.

Hormat saya,

Lily Dawis

———————————————————————————————————-

LAMPIRAN

Definisi

Penjelasan yang cukup lugas mengenai PAUD dari seri Pendidikan di Indonesia (Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini):

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 5 perkembangan, yaitu : perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini seperti yang tercantum dalam Permendiknas no 58 tahun 2009.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.

Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas).

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

Infant (0-1 tahun)
Toddler (2-3 tahun)
Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

================================================
BIOGRAFI SINGKAT PENULIS

#LilyDawis, pemerhati sosio-budaya dan pendidikan anak usia dini, penulis cerita dan pencipta lagu anak-anak yang karyanya sudah di kenal berbagai belahan dunia. Lulus dengan Magna Cum Laude, B.Sc in Business Administration, University of California at Berkeley, 1999. Lulusan terbaik (Valedictorian) dengan Nilai Ebta Murni tertinggi dari SMA Santa Ursula, Jakarta 1995. (Twitter: @LilyDawis, Instagram/Facebook: @bubblesoflovemusic).

Kreasi Lily Dawis, “Bubbles of Love,” sejak 2010 merupakan album pertama dan di 2016 masih satu-satunya dari Indonesia yang berhasil terdaftar di United States Copyright Office.

Di luncurkan 2012 untuk khalayak luas, di tahun 2016, Bubbles of Love telah berkembang pesat, menjadi suatu metode pencetus #ledakankreativitas supaya anak-anak menemukan kehebatan mereka sendiri. Bubbles of Love didengar, dibaca dan dipelajari oleh puluhan ribu anak-anak setiap harinya di berbagai sekolah/kursus maupun dalam rumah keluarga-keluarga di berbagai penjuru dunia. Albumnya telah tersedia di berbagai retailer kenamaan dunia seperti cdbaby.com, Amazon.com, iTunes, serta di berbagai jaringan lainnya.

Bubbles of Love terus berinovasi menciptakan serta menyelenggarakan berbagai “workshops aktif interaktif” yang dengan dinamis menggabungkan musik, cerita, gerak, aktifitas dan bonding khas Bubbles of Love supaya lebih banyak anak menemukan #kehebatanunik mereka sendiri dan mengalami #ledakankreatifitas yang konstan. Tujuan utamanya, membantu anak-anak dan keluarga di dunia tumbuh baik, cerdas, kreatif, sehat dan bahagia.

Social Entrepreneurship
Sebagian besar uang yang terkumpul dari penjualan dan kegiatan Bubbles of Love telah disalurkan kembali untuk mendukung berbagai kegiatan sosial di Indonesia, menyelenggarakan “workshops aktif interaktif” tanpa memungut biaya, bersama berbagai pihak yang memiliki visi sejalan dengan Bubbles of Love demi membantu anak-anak dan keluarga yang kurang mampu untuk “bonding” dan menemukan kehebatan mereka sendiri dengan selalu menjaga keceriaan dan ketulusan khas anak-anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s