0

DARURAT RAMAH ANAK – Rekomendasi Revolusi Mental untuk Pemerhati dan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini

Jakarta, 24 Mei 2016

Berikut adalah makalah pendek hasil pemikiran saya, yang pertama kali penulis sampaikan ketika diminta untuk mengemukakan rekomendasi kepada pra-kabinet kerja sekitar 2 tahun yang lalu.

Prihatin dengan kemerosotan moral  di kalangan belia belakangan ini, beberapa rekan yang bergerak di bidang pendidikan, pembangunan karakter, kesehatan dan kemanusiaan lalu mendorong penulis untuk mempublikasikan makalah ini untuk khalayak luas.  Keprihatinan saya pribadi juga meningkat, berangkat dari pengamatan bahwa telah terus berulang siklus ketidak-tahuan dan ke-tidak peduli-an (“cycle of ignorance”), dipupuk oleh berbagai kebiasaan dan kepercayaan negatif yang menghambat pertumbuhan dan pencerahan anak.  Siklus ini terus berlanjut, diwariskan kepada anak-anak oleh para kakek, nenek, orang tua serta pendidik yang terkungkung berbagai kebiasaan buruk yang telah mendarah daging, yang diturunkan kepada mereka dari generasi pendahulunya.  Sudah sesuatu yang darurat untuk menciptakan keluarga dan lingkungan yang ramah anak, to “Let Kids be Kids.”

Harapan kami adalah, semoga ide-ide ini diteruskan dan sampai kepada berbagai pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan, kesehatan dan perlindungan anak, sehingga bisa ditelaah lebih lanjut.

Semoga berkenan dan bermanfaat.

Lily Dawis, pemerhati sosio-budaya dan pendidikan anak usia dini, penulis cerita dan pencipta lagu anak-anak.

============================================================================================

“I Hear, I know
I See, I remember
I Do, I understand” Confucius

PENDAHULUAN

Revolusi mental perlu dimulai sedini mungkin.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Bangsa yang hebat selalu menaruh perhatian luar biasa bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karena merupakan kesempatan utama untuk membangun akar:
*pendidikan moral,
*etika,
*perkembangan fisik,
*kecerdasan/kognitif,
*ketangkasan sosio emosional
anak, yang lalu menjadi bekal utama baginya dalam menavigasi jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya dan tantangan kehidupan pada umumnya.

Dalam penjelasan Pasal 28 UU Sisdiknas No. 20/2003, rentangan anak usia dini adalah 0-6 tahun, dengan demikian, masa pre-natal tidak tercakup, namun masa tersebut diyakini merupakan saat krusial untuk membangun kesiapan pelaksanaan PAUD, oleh karena itu kami sertakan dalam pembahasan dan rentang usia ini kami sebut sebagai Usia Sangat Dini.

Rekomendasi yang tercakup dalam makalah ini meliput masa-masa paling rentan dalam kaitan Pendidikan Anak Usia Sangat Dini, yaitu masa-masa:
1. pre-natal (masa kehamilan),
2. infant (0-1tahun) dan
3. toddler (2-3tahun).

*Periode untuk 0-3 tahun juga di kenal di bidang “early childhood/early education” dengan terminologi “the first thousand days.”

TUJUAN

Dengan melakukan revolusi mental, pemerhati dan penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini berhasil membangun fondasi terciptanya manusia Indonesia yang: cinta bangsa, mawas diri, sadar lingkungan, sehat jasmani & rohani, empatik, akuntabel, kredibel, kompeten, kreatif, berdaya saing tinggi dan merupakan warga dunia yang dihormati, diteladani dan disegani.

PEMBAHASAN

I. Siapakah penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini?

Jawaban umum dari sebagian besar masyarakat adalah pemilik dan guru taman bermain/taman kanak kanak beserta jajarannya yang dinaungi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan divisi PAUD. Padahal, sebenarnya, penyelenggara utama Pendidikan Anak Usia Dini pada hakekatnya adalah orangtua dan keluarga.

Di sinilah letak revolusi mental yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Ciri khas kepribadian insan Indonesia adalah gemar bergotong royong dan saling menolong. Namun, ciri khas ini tidak disadari sebagai kekuatan yang sungguh dahsyat. Di hampir semua program PAUD ternama dari banyak negara maju, mereka menyatakan “menemukan” bahwa kedekatan anak dan orangtuanya melalui “bonding” (menjalin ikatan), akan dengan efektif memicu kecerdasan dan ketangkasan anak. Padahal, program-program ini sebagian besar “baru ditemukan” di abad lalu. Sedangkan, masyarakat Indonesia telah menjalankan praktik “bonding” melalui “gotong royong” secara refleks selama berabad-abad lamanya.

Namun, tidak dipungkiri, dengan menumpuknya beban dan kewajiban para orangtua dan tuntutan era modern di mana kedua orangtua harus bekerja, banyak yang kurang menyadari/terpaksa menggerus posisi mereka sebagai pendidik utama bagi anak.
Mereka lalu menyerahkan posisi strategis ini kepada orang lain;
*untuk sebagian besar keluarga di pedesaan, kepada ibu/ibu mertua (yang acapkali masih buta aksara dan tumbuh dengan berbagai kebiasaan negatif yang terus menerus diturunkan kepada generasi berikutnya tanpa bertanya).
*untuk keluarga ekonomi menengah ke atas (upper-middle class) tanggung jawab tersebut diserahkan kepada babysitter-pengasuh anak/pembantu rumah tangga sekaligus berusaha mengkompensasi ke tidak hadiran mereka melalui kelas-kelas daycare maupun guru-guru les.

Padahal, sebenarnya dan sebaiknya:

“Tidak ada yang mengenal anak sebaik orangtuanya”

Karena guru pertama anak (default teacher) adalah orangtua-nya. Dan yang sering kurang disadari oleh banyak keluarga, jika dalam usia keemasan 0-3 tahun, orangtua yang memiliki posisi strategis dan sentral bagi anak, tidak menyadari tanggung jawabnya sebagai pendidik anak yang utama, anak tersebut berpotensi kehilangan kesempatan emas dan tumbuh limbung (socially awkward).

Revolusi mental yang diperlukan dalam Pendidikan Anak Usia Sangat Dini adalah perubahan paradigma dari school centric menjadi family centric.

Dengan demikian, yang sangat krusial untuk diajak ber-revolusi mental bukan hanya guru-guru melainkan para calon orangtua dan tentunya para orangtua.

II. Langkah-langkah Rekomendasi Sesuai Target Umur dengan Administrasi Ramping dan Efisien.

1. Pre-natal (Pra-kelahiran)

“Surga berada di telapak kaki Ibu”

Demikian pepatah lama yang sangat dalam maknanya. Kebenaran pepatah ini sangat paralel dengan tingkat kebijaksanaan sang Ibu dan peran serta Ayah:
*memutuskan apa yang dikonsumsi Ibu selama kehamilan (asupan jasmani maupun rohani)
Catatan khusus untuk asupan rohani: perlu diperhatikan paparan terhadap dentum/frekuensi musik yang polutif maupun konten yang rentan kekerasan karena berkorelasi terhadap pembentukan otak, emosi serta memori bawah sadar janin.
*menjaga kebersihan dan kesehatan fisik dan mental selama kehamilan.
*mempersiapkan diri dan pasangan serta keluarga untuk menyambut buah hati secara rohani, jasmani dan finansial.
*membuat rencana garis besar dasar pembagian tugas yang sederhana, konsisten, aman dan nyaman.

Untuk keluarga-keluarga yang berdomisili di area pedesaan/mayoritas buta aksara, idealnya dijangkau dalam upaya penyuluhan untuk topik-topik di atas dengan menggandeng program Keluarga Berencana (KB) yang dinaungi BKKBn atau program sejenis dalam ruang lingkup:
*“Ketahanan dan pemberdayaan keluarga”
*”Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas”

Personil yang telah ditugaskan untuk menyuluh lingkup KB di atas, diberdayakan untuk menguasai pendalaman kebijaksanaan pasangan baru. Dengan demikian tidak tercipta kebutuhan guru-guru baru maupun pemborosan anggaran untuk penguasaan maupun penyuluhan terkait topik ini.

Untuk keluarga-keluarga di daerah perkotaan, meningkatkan kesadaran melalui media, social media dan menggandeng berbagai Corporate Social Responsibility Programs untuk memfasilitasi berbagai “events” yang informatif-menarik-efektif.

2. Bayi/Infant (0-1 tahun)

Ibu yang resah akan menghantarkan keresahannya kepada sang anak, apalagi ketika memberinya ASI. Ibu membutuhkan suasana yang kondusif yang hanya dapat tercipta dengan kerjasama/gotong-royong dari pasangan dan keluarganya. Ibu yang sehat dan tenang lebih mungkin menciptakan suasana yang aman, damai, sehat, kondusif, inspiratif bagi bayi.

Simpang siur dan debat dalam menimang bayi (infant) sebaiknya diminimalisir dan diselesaikan sebelum sang bayi lahir. Berbagai keputusan penting seperti apakah akan berkomitmen untuk memberi ASI harus menjadi komitmen pasangan dan didukung oleh keluarga terdekat, beserta tata cara dan asupan Ibu secara jasmani dan rohani.

“Anak adalah peniru terbaik” “Anak adalah cerminan orangtua-nya”

Pengenalan terhadap berbagai hal di bawah ini sudah dapat dilaksanakan dengan pemberian narasi yang disertai aksi sederhana, konsisten dan berulang-ulang.  Ciptakan berbagai kesempatan bagi anak untuk andil dalam berbagai kegiatan Ibu dan Bapak (sebagai pemimpin, audiens maupun sebagai asisten) untuk memberinya kesempatan mempelajari:

*Aman/Tidak Aman
-Hormati sang anak, jika ia belum merasa nyaman dengan orang yang jarang ditemuinya, jangan memaksa.
-Tunjukkan orientasi atas, bawah, dan konsep gravitas dan bagaimana menavigasi perbedaan orientasi. Contohkan.
*Konsep “Tubuhku adalah milikku, menghargai diriku sendiri dan menjaga milikku sendiri.”
*Prinsip kausalitas (sebab akibat, contohnya: malam hari gelap, maka itu kita menyalakan lampu, menekan tombol, lampu menyala, lalu terang),
*Empati (berbagai level emosi: sedih, lelah, marah, senang, mengapa dan bagaimana mengubah yang kurang baik menjadi lebih baik),
*Kesadaran lingkungan (tidak buang sampah sembarangan, memperhatikan perubahan cuaca dan unsur-unsur alam),
*Dasar-dasar sopan santun (maaf, permisi, terimakasih) serta
*Kreatifitas (bergumam, yang sebenarnya dasar bernyanyi, eksplorasi berbagai tekstur barang, kain, makanan, minuman)

Puskesmas dan perangkatnya seyogyanya dapat diberdayakan untuk menjadi pusat informasi cara menjaga kesehatan bayi serta berkomunikasi dan menjalin ikatan erat dengan sang bayi.
*Tahapan serta milestones yang dilalui anak sebaiknya disertai pemahaman yang cukup baik dari orangtua untuk pedoman observasi dan pemberian rangsangan yang sesuai tahapan anak.
*Asupan makanan sehat dan asupan rohani berupa musik, cerita, gerak maupun sentuhan, sangat tinggi nilainya dalam meningkatkan kecerdasan dan ketangkasan bayi.

Program CSR dari berbagai perusahaan dapat dihimbau dengan pemberian ekstra insentif berupa penghargaan yang difitur dalam belanja media berbagai departemen pemerintahan yang berkaitan dengan kesejahteraan anak agar menghantarkan informasi, teknik dan material yang paling mutakhir, efisien dan efektif bagi keluarga muda.

3. Toddler (2-3tahun)

Inilah saat yang ideal untuk lebih mendalami prinsip kausalitas, empati, kesadaran lingkungan, dasar-dasar sopan santun serta kreatifitas. Seorang anak tidak akan serta merta memahami maupun menguasai dasar-dasar pendidikan moral, etika, fisik yang tentunya sangat penting untuk membangun kecerdasan/ketangkasan kognitif dan sosio-emosional.

Jika program yang “family centric” dari tahapan-tahapan sebelumnya sudah berjalan dengan baik, dalam tahapan ini, seharusnya anak sudah lebih percaya diri serta mandiri dan bersemangat untuk mengeksplorasi lingkungannya.

Secara fisik, sebagian besar anak sudah berorientasi vertikal (tidak lagi merangkak melainkan berjalan tegak) seyogyanya miniatur orang dewasa. Ia seringkali terkesan mendorong batas emosi orangtuanya, padahal jika kita berempati, si kecil semata-mata ingin memahami norma-norma sosial, apa yang “boleh” apa yang “tidak,” karena seringkali orang-orang dewasa di sekitarnya ambigu. Konsistensi terhadap apa yang “boleh”/”tidak boleh” akan mengurangi rasa frustasinya.

Pada tahapan ini, sebagian orangtua mulai memasukkan buah hati mereka ke kelompok bermain (playgroup). Penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa guru-guru dan fasilitas di kelompok bermain bukanlah pengganti orangtua, melainkan perpanjangan dari orangtua.

Kesalahan yang cukup fatal dapat terjadi ketika orangtua menyerahkan semua hal berkaitan pendidikan anaknya kepada sekolah. Kecerdasan emosional yang ternyata berperan lebih besar dalam suksesnya seorang individu di masa depan, tidak dapat dibangun hanya di sekolah, melainkan lebih krusial bagi anak untuk memperoleh banyak kebebasan mengobservasi dan menjadi bagian dari dinamika dan pasang surut keluarganya sendiri.

Berbagai lembaga PAUD yang menyelenggarakan fasilitas playgroup perlu dihimbau agar mengikutsertakan orangtua secara aktif dalam berbagai aktifitas dan perkembangan anak.

PENUTUP

Rekomendasi ini bermaksud menekankan pentingnya peran orangtua agar supaya tidak lepas tangan dan senantiasa berusaha menjalin ikatan batin (“bonding”) bersama buah hatinya, bersama lembaga penyelenggara PAUD bergandengan tangan sebagai “partner” dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Rekomendasi ini tidak pernah memungkiri berbagai kelebihan yang dapat ditawarkan berbagai lembaga penyelenggara PAUD dan tidak juga membahas berbagai kekurangan yang terjadi di lapangan, semata-mata merekomendasikan apa yang sekiranya secara umum dapat meningkatkan kualitas mental pemerhati dan penyelenggara PAUD.

Hormat saya,

Lily Dawis

———————————————————————————————————-

LAMPIRAN

Definisi

Penjelasan yang cukup lugas mengenai PAUD dari seri Pendidikan di Indonesia (Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini):

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 5 perkembangan, yaitu : perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini seperti yang tercantum dalam Permendiknas no 58 tahun 2009.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.

Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas).

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

Infant (0-1 tahun)
Toddler (2-3 tahun)
Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

================================================
BIOGRAFI SINGKAT PENULIS

#LilyDawis, pemerhati sosio-budaya dan pendidikan anak usia dini, penulis cerita dan pencipta lagu anak-anak yang karyanya sudah di kenal berbagai belahan dunia. Lulus dengan Magna Cum Laude, B.Sc in Business Administration, University of California at Berkeley, 1999. Lulusan terbaik (Valedictorian) dengan Nilai Ebta Murni tertinggi dari SMA Santa Ursula, Jakarta 1995. (Twitter: @LilyDawis, Instagram/Facebook: @bubblesoflovemusic).

Kreasi Lily Dawis, “Bubbles of Love,” sejak 2010 merupakan album pertama dan di 2016 masih satu-satunya dari Indonesia yang berhasil terdaftar di United States Copyright Office.

Di luncurkan 2012 untuk khalayak luas, di tahun 2016, Bubbles of Love telah berkembang pesat, menjadi suatu metode pencetus #ledakankreativitas supaya anak-anak menemukan kehebatan mereka sendiri. Bubbles of Love didengar, dibaca dan dipelajari oleh puluhan ribu anak-anak setiap harinya di berbagai sekolah/kursus maupun dalam rumah keluarga-keluarga di berbagai penjuru dunia. Albumnya telah tersedia di berbagai retailer kenamaan dunia seperti cdbaby.com, Amazon.com, iTunes, serta di berbagai jaringan lainnya.

Bubbles of Love terus berinovasi menciptakan serta menyelenggarakan berbagai “workshops aktif interaktif” yang dengan dinamis menggabungkan musik, cerita, gerak, aktifitas dan bonding khas Bubbles of Love supaya lebih banyak anak menemukan #kehebatanunik mereka sendiri dan mengalami #ledakankreatifitas yang konstan. Tujuan utamanya, membantu anak-anak dan keluarga di dunia tumbuh baik, cerdas, kreatif, sehat dan bahagia.

Social Entrepreneurship
Sebagian besar uang yang terkumpul dari penjualan dan kegiatan Bubbles of Love telah disalurkan kembali untuk mendukung berbagai kegiatan sosial di Indonesia, menyelenggarakan “workshops aktif interaktif” tanpa memungut biaya, bersama berbagai pihak yang memiliki visi sejalan dengan Bubbles of Love demi membantu anak-anak dan keluarga yang kurang mampu untuk “bonding” dan menemukan kehebatan mereka sendiri dengan selalu menjaga keceriaan dan ketulusan khas anak-anak.

0

Ajar = Aktif, Seru & Dinamis Jika..?

Jakarta, 2 Mei 2016

Salam Hari Pendidikan Nasional!

Dalam Bahasa Indonesia, kata “ajar” menjadi akar dari aktifitas menuntut ilmu (belajar), maupun menghibahkan petunjuk (mengajar). Murid (pelajar) pun di posisikan untuk belajar dari guru (pengajar) yang mengajar.

Semantik ini menarik di telaah lebih lanjut. Karena asumsi dan kebiasaan yang sedemikian rupa, dalam praktiknya pengajar sering kebablasan, memposisikan diri sebagai yang dituakan dan harus dituruti. Belajar, yang idealnya suatu aktifitas yang asik nan menarik, menjadi beban dan momok karena pelajar merasa disuruh-suruh.

Apa solusinya? Seperti pepatah lama “banyak jalan menuju Roma,” tulisan ini tidak hendak mengkritisisasi bermacam metode yang marak di praktikkan. Semata menerbitkan suatu tanda tanya, mungkin semacam bahan renungan, apakah jika dicoba sesuatu yang berbeda, akankah hasilnya lain? Belajar menjadi menyenangkan, ditunggu-tunggu dan dicari-cari.

ajar lead love learn

Karena di Bubbles of Love, kami percaya jika aktifitas ajar itu didasari kasih & teladan, seyogyanya proses ajar-belajar-mengajar menjadi multi arah, aktif, dinamis dan seru! Dengan demikian, apapun bahannya dan siapapun dia, dia yang ingin belajar, akan mendapatkan dorongan serta manfaat maksimal dengan minimal stress.

Bagaimana menurut Anda?

*Jangan lupa untuk subscribe ya! Terimakasih! Penulis Lily Dawis adalah permerhati pendidikan anak usia dini, penulis cerita dan pencipta lagu anak-anak.  Albumnya, “Bubbles of Love,” sejak 2010 dan di 2016 masih satu-satunya dari Indonesia yang berhasil terdaftar di United States Copyright Office (lembaga HAKI di Amerika Serikat).  Lulus dengan Magna Cum Laude, B.Sc in Business Administration dari University of California at Berkeley dan lulusan terbaik (Valedictorian) dengan Nilai Ebta Murni tertinggi dari SMA Santa Ursula, Jakarta 1995.

0

Watch “Ayo Makan Sehat! Buah itu Asik! Let’s Eat Healthy! We BubblieKids Love Fruits So Much!” on YouTube

Tips in: Bahasa Indonesia & English

Yuk ajak si kecil hobi makan sehat dimulai dengan memperlihatkan video BubblieKids yang sukaaaa dengan melon Jepang. Lalu coba diskusikan ceritanya apa ya kok BubblieKids bisa suka melon Jepang, rasanya apa, teksturnya seperti apa? Buah apalagi ya yang disukai mereka, dan terpenting: buah apa yang disukai si kecil? #creativeteaching #parentinghack #parentingtip 

Eating healthy is so fun and cool! Japanese melon is a super yummy fruit. Let’s chat with our kids about why BubblieKids love melon so much? Is it the taste? The texture? Is it best served cold or room temperature? Discuss different types of fruits the #BubblieKids may also like AND ahem, what our kids like 😍 #HappyBonding

Don’t forget to SUBSCRIBE! TQ!

0

Can’t Be GREAT if Don’t Even START

Jakarta, Indonesia

“Oh! What will happen to the world if we just sit idly by”

Binus

 

 

 

 

 

 

 

and

“I don’t know about you, but I know that I can’t be GREAT if I don’t even START”

Binus2

These two sentiments pretty much sum up how I generally feel.

So glad got the opportunity to inspire and motivate hundreds of primary students a few days ago at Binus International Serpong.  This was a special occasion as it’s my second year doing so.  Mr. Rico of Binus shared how inspired the students were by last year’s talk that they decided to invite me again.  Truly a great honour! Tq Ms. Elsie and Mr. Rico.

During the workshop, shared my understanding about what being an author was about, how to do idea generations and what being a Bubblie (citizen of Bubbliapolis, city of our imagination) entails (hints: know to want and how to find #uniquegreatness and #creativityexplosions ;)).

Students and teachers alike all participated excitedly and intelligently during the active workshop.  We sang, danced, bantered and bonded during the 60 minutes that just fleww, due to us having had so much fun.

Binus3

So happy kids’ bright eyes grow even brighter because of Bubbles of Love.  Hope we get many more opportunities to make more positive impacts as we grow!  Hope to see you again soon Binusians! (LD)

 

 

 

0

KeyBubblie & AriaBubblie Take Milan, Florence and Paris!

Hello!

Who likes traveling, fine dining (michelin starred!) and architectural wonders? We do!

3Dprinted versions of the BubblieKids (NasyaBubblie, AriaBubblie and KeyBubblie) have been going on amazing trips and posing for social media since last year (2014). This summer, latest versions of KeyBubblie and AriaBubblie got chance to explore the finest things in Milan, Florence and Paris. This is the first account of their amazing journey. Don’t forget to subscribe to follow their adventures😉

We never took Emirates Business Class for Jakarta-Dubai-Milan before this, so we were quite taken with the constellation inspired night scene’s ceiling treatment.
constellation on emirates

It made us happy and appropriately sleepy. Ordered “nasi goreng” for the after midnight flight’s snack. Small portion, quite authentically Indonesian and nicely presented.

We were impressed by the humongous business class lounge in Dubai and was glad and thankful we got chance to rest there as our Dubai-Milan flight was delayed for many hours.

dubai lounge

After many hours, we arrived in Milan and transported by Emirates’ complimentary chauffeur driven limos to our hotel.  Refreshed, the next day we explored the areas near our hotel by the famous cathedral (Duomo).

We admire architectural splendours everywhere we go as they are true products and testaments to art, history, creativity and imagination. AriaBubblie and KeyBubblie loveee the skylight dome at the Galleria Vittorio Emmanuele so much. Very happy we got this shot:)

skylightmilan

#BubbliesInEurope2015 #HappyBonding

 

0

Summer Family Bonding in the Kitchen…

PapaBubblie & MamaBubblie #BubblesOfLoveCookieCutters

“A family needs leaders whom the kids shall love and respect wholeheartedly. Learning shall then occur…naturally.. ”

We love summers coz that means more time with the kiddos.

Among our most favorite things to bond with the kids is quality kitchen time.  We made some BubblieFamily’s cookiecutters with the MakerBot Replicator2 so you shall have even more fun time making cookies and such:) Please let us know if you got time to experiment with any and share with us your pics..

Happy Bonding! #bubblesoflovequotes http://www.bubblesoflove.net

Free #MamaBubblie file download via thingiverse: http://www.thingiverse.com/thing:818488